Website Resmi PP Darul Ulum Banyuanyar Info: 087888868818

Politikus Ketiga

Oleh: Admin | Kategori: CERPEN | Tanggal: 2020-11-30 | Dibaca: 300 kali
Politikus Ketiga

Dari tadi aku hanya melihati air putih sebagai jatah makan siang hari ini. Satu gelas air dan satu kotak makanan yang terlihat lecek. Sipir penjara pernah bilang, "itu adalah sisa dari pembuatan sosis dan tikus yang diolah kembali dengan garam, semoga kamu menyukainya." Dengan tatapan datar dia menertawai ku.

Gairah makan tidak ada sama sekali meski perut dari tadi berebut untuk makan. Tempat ini amat membosankan. Penjara, ini adalah penjara yang berbeda. Bukan kumpulan orang-orang kriminal, bukan juga koruptor, melainkan untuk politisi yang melawan. Yah.. tidak ada yang mampu menjelaskan siapa yang aku lawan hingga membuatku berada dalam sel yang didesain untuk membuat para tahanannya mempunyai penyakit kejiwaan.

Semua orang akan mengenalku sebagai koruptor sebelum aku berada di sini. Operasi Tangkap Tangan (OTT), begitulah informasi yang beredar, hingga siapapun politikusnya tidak akan bisa membela kalau sudah mengalami kejadian ini. Tapi semua itu adalah settingan, dengan cara yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Bukan satu dua orang yang mengalami ini, hingga semuanya bebas dari penjara dalam keadaan yang tidak mengenal dirinya. Gila, atau mati kelaparan. Atau kalau tidak ingin konsekuensi itu, dia harus tunduk dan patuh pada Wolffur, sebuah istilah yang kami pilih untuk penguasa tak terlihat yang mampu mengendalikan negara, atau dua negara sekaligus.

Lihatlah, sel ini kecil sekali. Hanya cukup untuk tidur telentang. Udara hanya masuk lewat lubang kecil, tempat sipir melempar makanan. Sudah dua bulan aku di sini, itulah yang ku rasa, entah dengan tekat apa aku akan bertahan.

Taaars..!! Taaars..!! Taaarrs..!!

Pintu sel dipukul dengan keras dari luar. Aku tau ini sudah waktunya buang air besar, sekaligus membawa sampah bungkus makanan. Waktunya lima belas menit setelah makan, dan itu harus rutin setiap hari. Kita keluar dari sel beberapa kali. Membersihkan WC dan lingkungan penjara, membantu pembangunan, mandi sekaligus buang air besar.

Pintu sel terbuka, aku keluar biasa saja, hari-hari tidak ada yang berbeda. Aku sudah lupa ini hari apa, tidak ada pengingat waktu atau hari di sini. Tahanan boleh dikunjungi tiga kali dalam setahun. Semua serba membosankan.

Saat itulah di jalur pertigaan aku mendapati beberapa sipir sedang membawa tahanan baru. Awalnya aku abai, tetapi ketika makin dekat aku tau, itulah adalah orang yang sangat kukenal. Dialah lawan politikku dulu, para pengusung petahana dan di antara orang yang memasukkanku ke dalam penjara. Aku sangat terkejut sekali, tidak menyangka dia juga akan masuk dalam penjara ini. Entah bagaimana alur politik saat ini, dengan adanya dia di sini sulit dipastikan.

Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan rakyat. Miskin atau kaya hanyalah sebuah alat di negara ini. Memeras yang kaya dengan alasan untuk mensubsidi yang miskin. Ujung-ujungnya hanyalah mengambil modal yang dicairkan. Keduanya menguntungkan bagi Wolffur.

Tahanan baru tersebut memohon berhenti sejenak, menatapku lama penuh kebencian. Lalu berucap, "aku benci tahanan ini!". Aku hanya tersenyum dan membalas ucapannya, "selamat datang, aku akan berbicara denganmu lain waktu".

Percakapan kami berakhir saat sipir penjara memaksa dia untuk jalan. Kami tidak lagi beradu pandang. Mau bagaimanapun aku lebih tau penjara ini dibandingkan dia. Aku tau kapan harus menemuinya. Aku akan berbicara padanya sebagai wujud kekesalanku dulu. Saat dia dengan sombong meringkusku pada peristiwa OTT. Aku katakan kepadanya bahwa aku bisa menjelaskan dengan detail kejadian saat itu. Tapi dengan sombongnya sebagai penasehat hukum dia berucap,

"Mau bagaimanapun, barang bukti lebih awal ditemukan dari pada penjelasanmu, untuk saat ini penjelasan politisi tidak dapat dipercaya."

*