Website Resmi PP Darul Ulum Banyuanyar Info: 087888868818

Peran Budaya Organisasi Pesantren Dalam Membentuk Karakter Santri

Oleh: Admin | Kategori: ARTIKEL | Tanggal: 2023-02-10 | Dibaca: 555 kali
Peran Budaya Organisasi Pesantren Dalam Membentuk Karakter Santri

Budaya Organisasi tentunya merupakan hal sudah lumrah kita dengar, namun terkadang banyak orang yang kurang paham dengan maksud organisasi yang sebenarnya. Budaya Organisasi merupakan hal yang tak akan pernah lepas dalam kehidupan kita setiap harinya. Sejak dilahirkan kita merupakan makhluk sosial yang sudah terikat dengan yang Namanya organisasi itu sendiri. Keluarga merupakan contoh organisasi terkecil yang sampai saat ini kita termasuk didalamnya. Sedangkan Budaya merupakan hal yang melekat didalamya. 

Berikut pengertian Budaya Organisasi menurut E.B Tylor (1832 1917), Budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, adat istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan Menurut William H. Haviland, Budaya merupakan sebuah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh sekelompok anggota maupun para anggota masyarakat. Apabila dikerjakan oleh orang-orang tersebut, maka akan melahirkan suatu perilaku yang dipandang layak atau pantas diterima oleh semua masyarakat. Dari pengertian diatas, maka yang dimaksud dengan Budaya Pesantren adalah sesuatu kebiasaan yang telah dilakukan secara terus menerus dan turun temurun dari generasi kegenerasi yang biasa dilakukan oleh pesantren yang menjadikan ciri khas dari pesantren itu sendiri.

Pesantren merupakan salah  satu  lembaga  pendidikan  Islam  yang  merupakan subkultur  ma-syarakat Indonesia adalah pesantren. Pesantren adalah salah satu institusi yang unik  dengan  ciri-ciri  khas  yang  sangat  kuat  dan  lekat.  Peran  yang  diambil adalah  upaya-upaya  pencerdasan  bangsa  yang  telah  turun  temurun  tanpa henti. Pesantrenlah yang memberikan pendidikan pada masa-masa sulit, masa perjuangan melawan kolonial dan merupakan pusat studi yang tetap survive sampai  masa  kini.  Tujuan  pendidikan  pesantren  menurut  Zamakhsyari Dhofier,  bukanlah  untuk  mengejar kepentingan  kekuasaan,  uang  dan  ke-agungan  duniawi,  tetapi  ditanamkan  kepada  mereka  bahwa  belajar  adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan. 

Oleh karena itu, sebagai  salah  satu  lembaga  pendidikan,  pesantren  juga mempunyai  tanggung jawab yang tidak kecil dalam membentuk karakter para santri.

Koentjaraningrat  kemudian  menyatakan  bahwa  kebudayaan paling sedikit mempunyai tiga wujud, yaitu: 
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma    peraturan dan sebagainya. 

Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas, kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. 

Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Pesantren merupakan Kawasan yang memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh Kawasan yang lain. Pesantren yang biasa kita kenal dengan ciri khas yang merupakan pokok penting yang termasuk didalamnya yaitu kiai,  santri,  masjid,  pondok dan  pengajaran  kitab kitab klasik. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa Pesantren kini hadir dengan berbagai macam terobosan baru yang membuatnya semakin eksis hingga kini. Secara garis besar, tipologi pesantren bisa dibedakan paling tidak men-jadi tiga jenis :
1. Salafiyah (tradisional),
2. Khalafiyah (modern) 
3. dan terpadu.

Tetapi seiring perkembangan zaman maka pesantren juga harus mau beradap-tasi dan mengadopsi pemikiran-pemikiran baru yang berkaitan dengan sistem pendidikan  yang  meliputi  banyak hal  misalnya tentang  kurikulum,  pola  ke-pemimpinan yang demokratis-kolektif dengan tidak meninggalkan ciri khas pesantren itu sendiri.

Selanjutnya, peran Budaya Organisasi dalam pesantren tidak lepas dengan kemampuan pesantren dalam membentuk karakter-karakter para santri. Pembentukan karakter ini tentunya sangat diperlukan sebagai hasil akhir pembelajaran santri selama mondok. Karakter tentang bagaimana Ketika dia bersikap, bersosial, dan Ketika terjun dalam bermasyarakat. Sehingga, saya sebagai penulis  dan seluruh masyarakat-pun berharap agar santri tidak meninggalkan dan dapat menanamkan serta  mengamalkan sifat santri yang sebenarnya dipesantren  maupun Ketika di luar.

Penulis: Sovi Alfi Nafilah (Mahasiswi STAI Darul Ulum Banyuanyar Prodi Manajemen Pendidikan Islam)