Website Resmi PP Darul Ulum Banyuanyar Info: 087888868818

Mencintai Khazanah Nusantara

Oleh: Admin | Kategori: ARTIKEL | Tanggal: 2020-11-30 | Dibaca: 299 kali
Mencintai Khazanah Nusantara

Salah satu sikap yang mulai kronis dan akut yang dimiliki sebagian Manusia Indonesia adalah terlalu jauh memandang khazanah Arab dan terlalu dekat memandang khazanah Nusantara, sikap yang demikian jika dirunut sampai ke atas ujung-ujungnya akan berakhir  pada sikap meremehkan dan kurang percaya diri. Dan kabar buruknya sikap seperti itu sudah tentu hanya akan menjadikan khazanah hasil buah karya para ulama’ Nusantara akan semakin suram dan terpendam.

Padahal banyak sekali karya Ulama’ Nusantara yang sudah mendunia, bahkan menjadi kajian wajib di setiap lembaga pendidikan Internasional, salah satunya kitab Taswiq Al-Hillan karya Syekh Muhammad Ma’sum Al-Samarani, kitab ini menjadi sumber rujukan bagi Mahasiswa yang minat dalam kajian Bahasa Arab Internasional bahkan kitab ini juga banyak dijadikan koleksi di berbagai Perpustakaan Internasional salah satunya di University Of  Toronto Canada.

Negara berikutnya yang serius sekali dalam menjaga khazanah keilmuan Nusantara adalah Belanda tepatnya di perpustakaan yang ada di Lenden, di Negeri kincir angin ini  telah disediakan  sebuah ruangan khusus  yang hanya memuat kumpulan Naskah Asli  Ulama’ Nusantara salah satunya karya dari Syekh Nawawi banten.  Yang memalukan Nusantara sendiri tidak  memiliki naskah aslinya, kita kalah pada mereka.

Jadi jika seandainya naskah yang ada di Nusantara ini ada yang keliru maka harus ke lenden beli tiket penerbangan yang nominalnya kurang lebih sekitar enam belas juta. Sejenak kita renungkan betapa mahalnya nilai sebuah ilmu,  hanya satu huruf  saja kita mesti membayarnya dengan uang sejumlah belasan juta. 

Namun yang menjadi pertanyaan adalah sudah seberapa besar perhatian dan kepedulian  kita terhadap karya-karya Ulama’ Nusantara? Di sekitar kita masih banyak manusia Indonesia yang ketika belajar Bahasa Arab selalu berkata “kalau tidak ke Arab masih belum afdhol atau masih belum nendang”  memang benar pada abad 18-19, orang Indonesia akan pergi ke tempat itu (arab dll) jika hendak belajar Agama dan bahasa secara mendalam, kalau sekarang bukankah di pesantren juga sudah lengkap  ilmu yang cukup memadai untuk melepas dahaga keillmuwan kita.  Wallahu a’lam