Website Resmi PP Darul Ulum Banyuanyar Info: 087888868818

Anak baik yang nakal

Oleh: Admin | Kategori: ARTIKEL | Tanggal: 2020-12-07 | Dibaca: 2,257 kali
Anak baik yang nakal

Kisah seorang anak nakal yang selalu mendapatkan gunjingan, mulai dari teman sebayanya, warga hingga lingkungan dimana ia tinggal.  Tidak kenal ruang dan waktu baginya selagi ada kesempatan untuk berulah ia pasti melakukannya. Sekali pun itu di sekolah tempat ia belajar.
Si ibu sudah berkali-kali memarahinya, dengan harapan, suatu saat ia akan berubah menjadi anak yang baik dan harapan-harapan baik lainya. Sambil menjewer kedua kupingnya, si ibu juga berkali-kali memukulnya, entah sudah berapa banyak parabot rumah yang ia habiskan untuk memberinya pelajaran.  Tapi, anehnya anak itu sekalipun tidak pernah menangis apalagi jera.
waktu pun tak terasa berlalu begitu cepat, anak itu sudah tumbuh remaja, dengan berbagai inovasi kenakalan yang lebih canggih dari sebelumnya. Rupanya usia sedikit pun tidak mengubah sikap  nakal dari anak itu.  Sementara itu, si ibu usianya semakin senja, ringkih dan kian rapuh.
Suatu hari, remaja nakal itu melancarkan aksinya. Warga geram, masing-masing memasang wajah murka. Si Ibu tahu, ia hanya bisa memasang wajah malu.
Sepulang ke rumah, si Ibu tak berbasa-basi lagi, ia memekik dengan suara parau, memukul remaja itu dengan sapu, beberapa kali. Diulang lagi dan lagi.
Remaja itu hanya diam. Hening. Tak bergeming. Tiba-tiba, matanya meneteskan sesal, melaju ke pipi dan jatuh ke lantai. Seperti gemericik hujan, airmatanya tak tertahankan.
"Kenapa kau menangis?" Si Ibu heran. "Apa ibu memukulmu begitu keras hari ini?"
Remaja nakal itu diam. Tampak sesekali ia berusaha menyeka air matanya sendiri. Namun ia kalah, airmatanya jatuh lagi dan lebih banyak lagi.
"Tidak, Bu. Tidak." Suara remaja itu bersegukan. "Pukulan ibu hari ini tidak sakit sama sekali."
"Lalu, apa yang membuatmu menangis?"
"Pukulan lemah ini yang menyadarkanku bahwa Ibu sudah tua." Dengan suara agak sesak matanya basah. "Namun sesalku, tak sekali pun aku bisa membahagiakanmu... Maafkan aku, Bu."
Si Ibu memeluk anak semata wayangnya itu. Keduanya tampak khusuk dalam kasih sayang, seakan hari itu Tuhan bermurah hati menampakkan surga di antara pelukan mereka.
Kisah ini sebenarnya ingin mengajak kita untuk diam sebentar sambil merenung berharap kesadaran kita akan sedikit tergugah.  Bahwa sejatinya menyadari kehilangan akan mendatangkan sebuah pelajaran, sedangkan menggantungkan sesuatu pada kehilangan hanya akan membuat kita bersedih dengan penyesalan yang kian menggelapkan jiwa. 
Kenyataan ini dapat kita saksikan, pada waktu-waktu terakhir Nabi Muhammad sebelum wafat.  bagaimana para sahabat nabi menyikapi kehilangan. kita cukupkan hanya melihat pada dua sahabat nabi, yakni Abu Bakar dan Umar bin Khattab, dari keduanya terlihat perbedaan sikap dalam menghadapi kematian Nabinda Muhammad saw. pada Abu bakar kita akan dapati beliau adalah tipe sahabat yang menyadari kehilangan. itu terlihat ketika beliau menangis  dan sikap tegas beliau pada saat Nabi muhammad melaksanakan khutbah terakhir. Abu bakar sadar akan kehilangan.  sedangkan pada Sayyidina Umar kita dapati beliau cenderung menggantungkan perubahan pada kehilangan. sehingga keadaan itu membuat beliau  gelap yang menjadikannya tidak mampu bersikap bijak. dan hampir saja beliau terjerumus pada pengkultusan pada Nabi Muhammad saw. untungnya Sayyidina Abu bakar yang sadar dan menyadari, segera datang dan segera mengatasi kericuhan. “Barang siapa yang menyembah muhammad maka ia telah tiada, dan barang siapa yang menyembah Allah maka, ia kekal selamanya.”